Liputan86.Net, PARIGI MOUTONG* – Aktor intelektual berinisial *EA* diduga menjadi dalang utama Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang memicu bencana banjir bandang di Desa Air Panas dan Desa Kayu Boko, Kabupaten Parigi Moutong.
Dua bulan lalu, banjir bandang menerjang kedua desa. Ratusan rumah terendam, hanyut, dan jembatan penghubung putus. Warga hidup dalam trauma.
Keluhan Warga: Jalan Rusak, Sawah Mati*
Pada *Minggu, 6 September 2026*, tim media turun langsung ke lokasi dampak tambang ilegal. Di sana, keluhan warga pecah.
“Kami punya jalan rusak, persawahan kami tergenang lumpur akibat penambangan emas yang tidak beraturan,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat yang enggan disebut namanya.
Sungai yang dulunya jernih kini keruh. Irigasi pertanian lumpuh total karena tertutup lumpur sisa tambang.
Modus: Rusak Alam Demi Untung Cepat*
PETI yang digerakkan EA beroperasi di Daerah Aliran Sungai (DAS). Hutan di gunung dan bukit digunduli untuk pembukaan lahan. Akar pohon yang menahan tanah hilang.
Penggalian lubang dan semprotan air bertekanan tinggi membuat tanah menjadi rapuh dan labil. Limbah lumpur, pasir, dan batu dibuang ke sungai hingga menyebabkan pendangkalan.
“Saat hujan deras, sungai yang sudah dangkal meluap. Tumpukan material di hulu menjadi bendungan alami yang sewaktu-waktu jebol. Inilah bom waktu banjir bandang,” ujar warga lain.
EA Diduga “Pemain Tunggal”
Informasi yang dihimpun, EA diduga menguasai penuh tambang di Air Panas dan Kayu Boko. Penambang lain yang masuk akan ditertibkan.
Padahal, baik tambang berizin maupun ilegal, jika tanpa AMDAL dan reklamasi yang nyata, akan tetap menghancurkan lingkungan.
“AMDAL sering hanya formalitas di atas kertas. Di lapangan nihil,” kata pemerhati lingkungan.Harapan Warga: Bupati Turun Tangan*
Masyarakat Air Panas dan Kayu Boko berharap *Pemerintah Daerah Kabupaten Parigi Moutong* segera mengambil langkah tegas menyikapi keluhan warganya.
“Pak Bupati, tolong kami. Tutup tambang ilegal ini sebelum bencana yang lebih besar datang lagi,” pinta warga.
LPK SULTENG: TANGKAP DALANGNYA, HENTIKAN BENCANA*
Ketua LPK Sulawesi Tengah,Abd Rahman Tjani, SH*, mendesak aparat segera bertindak tegas.
“PETI dan eksploitasi di sepanjang DAS harus dihentikan. Tangkap aktornya. EA diduga kuat sebagai sumber malapetaka ini,” tegas Abd Rahman Tjani, SH.
Menurutnya, kerusakan ini bukan hanya soal lingkungan. Sungai yang tercemar mematikan irigasi dan sumber air bersih. Tanah kehilangan kesuburan. Ekonomi lokal hancur.
“Perubahan bentang alam secara masif telah melumpuhkan fungsi hidrologi dari hulu ke hilir. Ini kejahatan terhadap generasi mendatang,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, konfirmasi kepada EA melalui WhatsApp belum mendapat tanggapan.
Redaksi membuka ruang hak jawab.
*Reporter.(Faishal SH)














Komentar